Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Label: , ,

Ceritaku "Keanehan di Puncak Pawitra"

Gunung memang selalu menyimpan misteri bagi para pendaki. Dan bagi pendaki gunung mengalami hal-hal yang ganjil serta  gaib memang sudah menjadi hal yang biasa di kalangan mereka. aku sebagai seorang yang suka mendaki gunung, percaya bahwa memang hal-hal seperti itu memang ada. Karena aku pun beberapa kali pernah mengalami kejadian yang ganjil ketika mendaki gunung. Setiap gunung memang memiliki cerita mistisnya masing-masing. Dan aku akan menceritakan sekilas salah satu pengalaman mistik saat mendaki gunung penanggungan bersama adik perempuanku.

Hari itu, hari kamis aku bersama adikku debby (waktu itu 18 tahun usianya) pergi mendaki gunung penanggungan dan memang saat itu aku bertujuan untuk membawa adikku berada di puncak gunung penangungan (puncak pawitra) trawas-jawa timur. Kita berangkat dari rumah pada pukul 10 pagi. Dan sampai di lokasi perijinan pada sekitar pukul setengan sebelas siang.  Kita memulai pendakian pukul 13.00 wib , yang sebelumnya berisitirahat di pos perijinan terlebih dahulu. 

Mak Ti. Adalah pemilik warung, yang warungnya  juga di jadikan pos perjinan bagi para pendaki yang akan melakukan pendakian ke gunung penanngungan. Tanpa meminta informasi kepada Mak Ti tentang berapa jumlah pendaki yang melakukan perjalanan pendakian hari itu, kita pun dengan percaya diri melangkahkan kaki menuju puncak pawitra dengan di sertai doa terlebih dahulu.

Singkat cerita kami sampai di puncak bayangan sekitar pukul 16.00 wib, dan memutuskan untuk sejenak beristirahat untuk melepas lelah. Saat kita berada di puncak bayangan memang tak terlihat satu pendaki pun yang sedang berada di sana, ataupun ketika kita berjalan menuju puncak bayangan memang tak menjumpai satu pendaki pun. Alias di puncak bayangan waktu itu hanya kita berdua.

Sekitar pukul 17.00 wib, kita pun memutuskan melanjutkan perjalanan. Pendakian ke salah satu gunung ini adalah pengalaman pertama bagi adikku. Jadi wajar jika aku sebagai seorang kakak sedikit was-was dengan kondisi adikku, tapi syukurlah masih tampak keceriaan dan semangatnya kala itu.
Saat itu kita yakin bahwa setidaknya mungkin ada beberapa para pendaki yang sedang camp di atas puncak pawitra. Dengan berbekal keyakinan itulah kami  bersemangat terus melangkahkan kaki.
Hari sudah mulai gelap. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak sambil menunggu datangnya pagi, di sebuah gua yang terletak di sisi jalur pendakin, untuk sekedar mengistirahatkan badan yang tampak mulai kelelelahan. Mungkin sekitar pukul 19.00 wib kala itu.

Malam itu cuaca di langit tampak cerah hanya saja terkadang hembusan kabut membuat malam menjadi semakin dingin. Aku pun bertugas membuat teh,kopi dan juga memasak untuk adikku. Setelah menyantap makanan kita pun bercerita-cerita dan bercanda-canda. Hingga keanehan pun terjadi.
Jarak antara gua yang kita tempati dengan puncak pawitra sekitar 500 meter atau kurang lebih 15 menit waktu normal dari gua menuju puncak pawitra.

Adikku mengatakan jika dia mendengar suara-suara seperti orang yang sedang berbicara dan mengobrol di atas puncak sana. Aku pun yang juga mendengarnya berkata kepada adikku untuk menyakinkannya
“pasti nang dukur kunu onok akeh uwong sing lagi ngecamp, ” celetukku pada adikku.
Kita yang mendengar hal itu tidak menganggap hal tersebut adalah sebuah keanehan. Kita pun kembali melanjutkan bercerita satu sama lain. Hingga saat itu pada pukul sekitar 23.00 wib, kita melihat sebuah cahaya berada di puncak bayangan. Cahaya tersebut sepertinya berasal dari cahaya sebuah senter, cahaya tersebut bukan hanya satu melainkan ada banyak hanya sata jarak antara cahaya yang satu dengan yang lainnya tidak berdekatan, dan cahaya tersebut berada di jalur pendakian. Kita yakin saat itu memang akan ada pendaki yang  melakukan pendakian malam itu. karena cahaya senter tersebut seperti sedang berjalan menghampiri kami. Kita pun senang, karena akan ada teman yang menemani perjalanan kita sampai ke puncak. 

Aku pun antusias melihat hal itu, hingga aku  memberikan kode dengan menyala matikan lampu senterku ke arah mereka yang akan mendaki untuk memberi tanda bahwa kita berada di sekitar gua tersebut.
Sejam kita menunggu mereka, dua jam kita tetap menunggu mereka yang cahaya senternya kala itu masih bisa kita lihat. Sudah 3 jam kita menunggu mereka, tapi mereka tak juga sampai pada gua yang kita tempati. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk tidur di dalam gua tersebut.
Aku yang saat itu memang tidak benar benar tertidur, karena aku bertanggung jawab untuk menjaga adikku. Tepat pada pukul 04.00 wib, aku membangunkan adikku yang tampak kedinginan untuk mempersiapkan diri mendaki kembali. Sebelum mendaki itu aku memasak terlebih dahulu.
“eh, pendaki’e wes munggah ta ?” tanya adikku
“embo, ket mau gak lewat, paling ngecamp nang puncak bayangan.” Kataku.

Tepat pada pukul 04.30 wib, kita pun melanjutkan pendakian menuju puncak pawitra. Dengan asumsi kita, bahwa di puncak pawitra ada para pendaki yang ngecamp di sana.
Sekitar pukul 05.00 kita pun akhirnya sampai di puncak pawitra dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Saat itu langit masih gelap, dan fajar masih belum menampakan dirinya., dan di sekitar kita memang masih tidak tampak para pendaki. 

Kita pun dengan antusiasnya menunggu datangnya sang fajar sambil menggigil kedinginan. Sambil menunggu siapa tahu ketika langit mulai terang kita bisa melihat di mana lokasi para pendaki yang kita dengar suara-suaranya tadi malam berada.

Matahari pun menampakkan dirinya, dan sedikit demi sedikit mengangkat dirinya ke atas.kita pun sedikit terkaget dan terherab-heran karena asumsi kita sebelumnya bahwa ada pendaki di puncak pawitra selain kita ternyata salah. Tak ada satu orang pendaki pun, dan tak ada tenda 1 pun yang ngecamp di sana. Lalu yang kita dengar tadi malam itu apa dan siapa ?!

Setelah 1 jam berada di puncak pawitra kami pun beranjak turun, kita pun saat itu menyakini bahwa akan bertemu dengan para pendaki di puncak bayangan yang kita lihat tanda-tandanya tadi malam.
Setelah berjalan hampir 2 jam, kita pun sampai di puncak bayangan, tapi sekali lagi tak ada para pendaki di sana satu pun. Lalu yang kita lihat tadi malam itu apa dan siapa ?

Hal itu masih menjadi misteri bagi kita berdua sampai saat ini. Terutama bagi adikku yang baru melakukan pendakian pertamannya. Dan biarlah itu tetap menjadi misteri alam yang menambah keunikan cerita pendakian gunung.













Label: , , , , ,

Bromo tengger Semeru (bersama sandy)

Bromo tengger semeru memang selalu menjadi daya tarik istimewa bagi kalangan yang senang menikmati keindahan alam. Sunrise, sunset, pasir berbisik dan bukit teletubbies serta pemandangan alam yang luar biasa adalah beberapa hal yang tersaji secara nyata ketika mengunjungi daerah Bromo tengger semeru.

Hal tersebut itulah yang membuatku ingin mengajak salah satu sepupuku untuk pergi kesana. Kami hanya berdua dengan berboncengan sepeda motor menuju bromo tengger semeru, yang kami mulai pada pukul 00.30 wib dari kota sidoarjo yang tercinta. Kali  ini aku mengambil rute perjalanan menuju probolinggo yakni Tongas-ngulig. Perjalanan dari sidoarjo menuju ngulig kami tempuh selama 2 jam dengan kondisi jalanan sepi yang kemudian di lanjutkan dari ngulig menuju ke pintu masuk gunung bromo yang kami tempuh sekitar 1 jam. Sehingga pada pukul sekitar 03.30 wib kamu sudah memasuki kawasan bromo tengger semeru yang sebelumnya membeli tiket masuk terlebih dulu seharga Rp.50.00 0 (1 sepeda motor 2 orang *boncengan).

Pukul 05.00 wib, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung bromo dengan berjalan kaki sembari menahan dinginnya suhu saat itu. sebelum pukul 05.30 wib kami sudah berada pada kawah gunung bromo, dengan kondisi bromo tengger semeru saat itu memang di padati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Detik- detik kemunculan matahari terbit yang kami tunggu pun akan segera terpampang di hadapan kami berdua. Cahaya bias berwarna oranye nya tampak menyuguhkan kemegahan alam ini, awan pun seperti tampak sedang menari-nari menyambut datangya sang surya.

Pada pukul 06.00 wib semua pemadangan di hadapan kami yang sebelumnya tertutup kabut mulai menampakan keindahannya masing-masing. Gunung bertebing, pasir dan awan, matahari dan biasnya, awas kawah bromo, dan kerumunan para wisatawan melengkapi keindahan ciptaan TUHAN saat itu.

Setelah puas berfoto dan mengabadikan moment-moment terbaik, pada pukul 07.00 wib kamu memutuskan melanjutkan perjalanan dengan bersepeda motor melewati pasir berbisik untuk menuju padang savana atau yang di sebut dengan bukit teletabies. Bekendara sepeda motor melewati pasir berbisik memang adalah sebuah tantangan bagi kami, dengan sesekali sepeda motor yang kamu tumpangi seperti selip dan sesekali juga kamu terjatuh dari sepeda motor akibat licinya pasir yang menjadi jalur perjalanan kami. Jika di tanya, bagaimana rasanya melintasi pasir berbisik ? rasanya itu menengangkan, lelah tapi menyenangkan.

            Setelah puas berada di area lokasi dengan pemandangan yang luar biasa yakni di area bukit teletubies, pada pukul 09.00 wib kami memutuskan untuk kembali ke sidoarjo melalui tumpang (malang).

            Berikut ini foto diantara yang bisa kami bagikan :













Label: , , , , ,

PERBEDAAN SEPATU BAHAN VIBRAM DAN GORE TEX



               Di tengah-tengah keramaian dan masyakat kota, akhir-akhir ini banyak masyarakat kota yang ketika liburan memilih lebih mendekatkan diri kepada alam. Contohnya mendaki gunung, atau sekedar melakukan travelling mengunjungi objek-objek wisata atau tempat-tempat bersejarah. Hal ini tentu tak lepas dari yang namanya berjalan/jalan kaki. Ketika melakukan perjalanan kita juga harus memperhatikan alas kaki yang kita pakai nyaman atau tidak ketika kita berjalan jauh. Jangan sampai keasyikan kita, malah membuat telapak kaki kita menjadi cidera, lecet atau pegal-pegal dan tidak nyaman.

Di pasaran/ di toko-toko outdoor banyak sekali yang menjual sepatu berbahan gore tex dan vibram. Bahan gore tex dan vibram mempunyai kegunaan, kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

BAHAN GORE TEX.

                Gore tex adalah bahan sepatu yang sangat kuat, dan water proof. Bahan sepatu ini bisa di bilang hampir sama dengan kualitas kulit buaya. Seperti pada halnya sepatu PDL TNI. Di karena bahannya yang waterproof,maka akan terasa panas di kaki ketika di pakai terlalu lama baik itu sedang dalam ke adaan diam ataupun berjalan. 

BAHAN VIBRAM

                Bahan vibram di gunakan sebagai sol sepatu. Bahan ini sangat keras dan kuat serta ringan. Bahan vibram juga biasa di gunakan pada sol sepatu PDL TNI. Di karenakan solnya yang sangat kuat dan keras, maka memiliki kekurangan yakni sangat licin ketika berjalan di atas bebatuan, dan tidak nyaman ketika melakukan perjalanan yang jauh. Di karenakan solnya yang kaku.

NB : Kalau saya tidak memilih 100% di antara ke duanya. Tapi memilih sepatu yang berkualitas semi vibarm dan semi gore tex. Karena nyaman ketika di buat berjalan jauh dan lama.

Seperti ini : model sepatu Rei Winter tail. _^







Label: , , , ,

"Kantong Ajaib" (Surpipel)

Dalam pendakian atau lintas alam yang sering saya lakukan, selama ini. Saya tidak akan pernah meninggalkan kantong ajaib yang saya miliki. Karena ketika saya berpergian jauh ke dalam hutan. Saya akan selalu membawa kantong ajaib ini, karena ketika saya telah membawanya ada perasaan tenang dan siap yang hinggap di dalam diri saya.

Berikut ini penampakan “Kantong Ajaib” kepunyaan saya.:

Kantong ajaib di berisi perlengkapan pendukung sederhana darurat, untuk bertahan hidup di dalam, hutan apabila memang di perlukan. Kantong ini memiliki panjang 25 cm, dengan tinggi 10 cm. Kantong ini adalah bekas pembungkus sandal ei**r.

Berikut penampakan di dalamnya :


Di dalam kantong terdapat :
  • ·         Jam tangan
  • ·         Kaos kaki
  • ·         Senter kecil
  • ·         Buku catatan dan pulpen
  • ·         Pisau komando dan pisau lempar.
  • ·         Korek api
  • ·         Benang jahit kecil dan besar serta jarum
  • ·         Kompas
  • ·         Baterai


Peralatan ini memang terlihat sederhana, dan mungkin bisa di katakn tidak memenuhi SOP keselamatan. Tapi menurut saya, peralatan ini sudah memungkinkan saya untuk bertahan hidup apabila memang terjadi keadaan darurat.





Label: , , ,

Kesasar Opo Di sasar'no ? (15 Februari 2014) Cerita Bohong


Sabtu itu rencananya sih pengen di rumah saja, tapi mengapa tiba-tiba jadi pengen mbolang, sedikit memasuki hutan untuk menikmati kesendirian. Kesendirian disini yang di maksud bukan meratapi kejomblooan loh ya. Ini beneran ingin menyendiri sendiri._^
Ok Tujuan sudah di putuskan, dan saatnya mempersiapkan perlengkapan. Waktu masih menunjukan pukul 09.00 pagi saat itu.  Compass, Peta, senter, pisau, dll sudah di persiapkan jauh hari memang,yang semuanya itu sudah terbungkus dalam kain kasa bekas pembungkus sandal gunung eiger. Tidak lupa pergi ke dapur untuk memasak telor, dan tempe sebagai bekal perjalanan.

Tepat pukul 10. 00, berangkat dengan mengendarai sepeda motor Honda supra 125 yang kemanapun selalu menemaniku. Kebetulan saat itu cuaca di sidoarjo sangat cerah, walaupun sehari sebelumnya memang terjadi bencana yakni turunya hujan abu vulkanik akibat melentusnya gunung kelud. Tapi sepurane, saya tidak membahasa gunung kelud, saya membahas gunung yang lain, Hihi. _^. Ok back to topik !. sudah setengah jam perjalanan dan tinggal setengah jam lagi tiba di tempat tujuan, tapi entah mengapa saat itu tiba-tiba awan sepertinya sedang mulai bergumul tandanya mau hujan. Dan ternyata memang benar 10 menit kemudian hujan turun dengan lebat. Tapi untungnya ada jas hujan,dan perjalanan tetap di lanjutkan.
Begitu tiba di tempat tujuan, langsung pergi ke warung buat mimik teh anget dulu, biar strong _^.  Karena waktu itu hujan belum berhenti akhirnya ku putuskan untuk menunggu di warung dulu sekalian menghangatkan badan dulu.

OK. Satu jam sudah berlalu, untuk menunggu hujan reda pun aku sampai tertidur, Yak Ampun Sudah jam 13.00. Kupersiapakan tasku yang biasa orang inggris sebut tas daypack, ku lihat cuaca juga sudah lumayan baik, hujannya sudah tidak lebat lagi, walaupun rintik rintik hujan terus berjatuhan ke tanah.

Saatnya berangkat, tapi baru berjalan setengah jam sudah di guyur hujan lebat. Haduh pertanda apakah ini?? !.  Dan akhirnya tida saat di mana aku harus membuka peta dan kompas, untuk keluar dari jalur yang sudah di tetapkan. Ku tetapkan, aku akan mengarah sejauh 3 derajat kearah kanan dan akan terus berjalan kearah sana, ku perhatikan kontur perjalanan yang ku lalui dengan peta, saat itu waktu menunjukan pukul 13.40, dengan kondisi cuaca yang masih hujan dan aku yang seperti biasanya sendiri _^.  Dengan berbekal nasi 1 bungkus, aku berjalan menuruni lembah dan masuk di dalamnya, serasa menyenangkan memang, karena begitu banyak hal yang bisa ku jumpai di sana, yang mungkin jarang orang lain bisa melihatnya. Memakai jas hujan yang selalu terinjak oleh kakiku sendiri, aku terus berjalan. Hingga lupa waktu.

Cuacapun berangsur-angsur membaik sore itu. Dan tiba waktunya saya untuk pulang. Karena besok pagi saya akan melatih di kemiri. Walaupun dengan kondisi Badan yang basah,ku tetap berjalan pulang sesuai jalan yang tadi kulintasi. Tapi sampai pada tempat di mana ada pohon bamboo yang saat berangkat sudah kulewati. Aku hanya melihat dan melintasinya saja waktu itu, karena memang tak ada yang menarik dari sekumpulan pohon-pohon bamboo itu, walaupun saat berjalan aku bertanya dalam hati “Kok bisa yang pohon bamboo itu tumbuh subur di ketinggian seperti itu.?! ”.
Ku tetap berjalan hingga malam mulai menjelang., senterpun aku keluarkan dari dalam tas, tampak kurasakan rerumputan yang masih basah terinjak-injak olehku. Kulihat waktu saat itu menunjukan pukul 18.45.  
“Kok lama ya.? Padahal ini jalan yang benar” tanyaku dalam hati sambil terus berjalan.

Entah mengapa semakin lama aku berjalan timbul perasaan bahwa aku sedang tersesat, entah itu memang tersesat atau sengaja di sesatkan.

Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 19. 30, dan terlalu lama aku berjalan aku pun lapar, dan mengambil sebungkus nasi yang aku buat tadi pagi. Sambil di temani suara nyanyian alam pada malam hari, aku pun duduk bersilah untuk mulai makan dan beristirahat. Saat itu yang kupikirkan adalah aku harus pulang sebelum hari berganti. Jadi setelah makan dan berdoa kuputuskan untuk kembali berjalan. Walaupun perasaan takut memang selalu ada. Dengan sepatu dan celana yang basah, dan kaki yang mulai kelelahan, dan henti-hentinya ku panjatkan doa. Sampai pada akhirnya aku sampai pada titik point awal, dimana aku sudah bertemu dengan jalan setapak.  Waktu itu menunjukan pukul 20.30.

Yang saat itu masih menjadikan pertanyaan buatku adalah, aku tersesat atau sengaja di sesatkan.?!. Tapi Untung aku masih bisa pulang malam itu, dan ke esokan harinya dapat melatih, walaupun dengan kondisi dan yang tampak kelelalan…END_^








Label: , ,

Perjuanganmu...

Terlihat Raut Muka Lelah di wajahnya. Luka di kening dan Dahinya tanda betapa kerasnya dia berjuang hari itu. Bajunya tampak lusuh, kotor, terkena debu yang menemaninya sepanjang perjalanan. Dan ada kata kembali dalam pikirannya, yang ada dia hanya ingin pulang dengan segera untuk bertemu dengan orang tuanya. Walaupun dalam hati kecilnya berkata “Aku Butuh Air, Aku Haus.”. Disampingnya terlihat botol kemasan yang sedari tadi di genggamnya, dengan air yang tak sampai setengah botol, mungkin lebih rendah dari seperempat botol. Dan dengan itulah dia mencoba bertahan, air adalah Nyawannya saat itu.

Sehari yang lalu dia nampak seperti anak kota pada umumnya, cantik, cerdas dan bersemangat. Tak pernah terbersit di pikirannya, bahwa dirinya akan terlihat seburuk ini, bahkan ini mungkin adalah yang terlihat paling buruk dalam hidupnya.


Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 wib. Air di dalam botol kemasannya tinggal seteguk habis, sedangkan perjalanan tersisa masih teramat panjang. Dia duduk, mengambil nafas, dan berusaha berserah kepadaNYA, walaupun dia berpiki sekali lagi, mengapa diriku harus berada disini ?, aku seharusnya berada di rumah, menikmati hari-hariku yang indah seperti biasanya. Sesekali dia tertunduk, pertanda keputusaan mulai menguasainya. Hanya air yang di butuhkannya saat itu, hanya air yang dapat membuatnya berpikir dapat bertahan saat itu. “Tuhan, dimanakah Engkau…??!” teriaknya dalam hati.

Kakinya sudah tak mampu untuk di buat berjalan. Tangan kanannya masih terasa sakit akibat berbenturan dengan batu sejam yang lalu. Dia tak punya lagi air, airnya sudah habis terminum, Kini dia mulai berdoa, agar mujizat itu datang dariNYA. Doanya di jawab, ada malaikat yang datang memberikannya air, terlihat senyuman di wajahnya, mulai bersemangat kembali. Di tariknya nafasnya dalam-dalam, dan di hembuskannya dengan kencang. Dia bangkit dan berjalan kembali dengan kakinya yang lemah. Tujuannya hanya satu, dia ingin bertemu dengan orang tuannya. Tuhan menunjukan 1 hal pada dirinya, dan 1 hal itu adalah tentang kekuataan Doa.


Label: , , , ,

Perjalanan Si Pendorong Sepeda Motor

Bujubuneg, nyari tukang tambal ban di desa tamiajeng ternyata susah buanget. 2 Tukang tambal ban yang di rekomendasikan warga sekitar sudah saya lewati begitu saja di karenakan Tutup. Terpaksa harus jalan lagi, lagi dan lagi, sambil terus mendorong sepeda motor Honda Vario yang ban dalamnya saja mulai terlihat terburai, keluar dari peleg dan ban luarnya. Sepeda motor tersebut sebenanrnya bukan punya saya, ini  punya teman. Di karenakan saya ini orangnya baik hati dan tidak sombong, akhirnya sayalah yang bertugas dengan rela hati dan ikhlas untuk mencarikan tukang tambal ban di desa tamiajeng.

Jadi kenapa sepedanya bisa Bocor ?? hal ini di mulai dari teman saya, febri yang dengan amazingnya membonceng saya untuk mengambil botol air minum kemasan yang tertinggal. Lah trus bagaimana bisa bocor , kalau hanya di buat boncengan doang…??. Boncengannya tidak jadi soal, yang jadi persoalan adalah jalan yang kita lalui adalah jalan berbatu yang tajam, bergelombang dan naik turun.  Botol Minuman tidak di dapat, Bocorpun di dapat, alhasil Misi Gagal, dan hasilnya saya mendorong sepedanya untuk mencarikan tukang tambal ban. iya kalau dekat, ini mah, bukan lagi jauh, tapi juuuaaaaaauuuhh. Ban dalam sepeda motor gempor, kakiku pun lebih gembor.

Waktu itu menunjukan sekitar pukul 4 sore, di desa tamiajeng. Sebelum saya memutuskan untuk mendorong sepeda motor yang bocor itu, terlebih dulu saya Tanya Mak Ti, si empunya warung yang saya singgahi.
“Mak, Tambal ban cidek kene nang endi..??” tanyaku.
“ikuloh, cidek pertigaan, mudun titik.” balas mak ti, sambil membersikan gelas.
“Y owes, mak suwun” jawabku.
Dengan tidak yakin atas jawaban mak ti akupun, mencoba bertanya pada anaknya yang berumur sekitar 10 Tahun.
Sambil duduk ,menghampiri anaknya saya bertanya “Dek, tukang tambal adoh ta, teko kene”.
“Yo lumayan” balasnya.
“Waduh perjuangan iki..” batinku
Sesaat kemudian setelah minum segelas teh saya pun berangkat, dengan semangatnya.

            Di perjalanansaya berjumpa, dengan warga sekitar yang baru pulang dari kebunnya. Bapak tersebut pun dengan senang hati mau mengantar saya ke tempat tukang tambal ban, yang kebetulan searah dengan rumahnya. Dengan sangat ramah bapak tersebut, menjawab semua pertanyaan yang saya tanyakan tentang lingkup masyarakat desa tamiajeng. tak terasa, 15 Menit sudah saya berjalan menuruni jalanan yang beraspal ini dengan bapak tersebut menjadi teman ngobrol saya. Dan sampailah saya di depan tukang tambal yang di rekomendasikan oleh Mak Ti. Terasa sangat menyakitkan memang, berjalan selama 15 menit, mendorong sepeda motor bocor yang beratnya 5 Kali Lipat berat saya, dengan kontur jalan beraspal yang naik turun, dan ternyata tempat tambal bannya tutup.

            Tapi tenang, tempat tambal ban pertama tutup, masih ada tukang tambal ban lagi yang menanti di depan sana, itupun atas rekomendasi dari warga di sekitar tempat tambal ban pertama. Akhirnya saya pun tetap melanjutkan perjalanan dengan masih sangat bersemangat. Akhirnya sampai juga di depan rumah penjual pisang, yang di sampingnya terletak rumah tukang tambal ban. terlihat tabung gasnya yang berwarna orange besar terpampang di depan rumahnya, dengan ban-ban dalam bekas yang menggantung di penyangga genteng depan rumahnya.
“Pak, tambal ban” ucapku di depan rumahnya.
“Pak tambal, ban” ucapku sedikit lebih nyaring.
Pak, tambal, ban” kali ini aku berteriak.
Suara ibu-ibu tua samping rumah tukang tambal bang menggagetkanku
“Lapo leh..?? tambal ban ta..??”  seru si ibu.
“njeh, bu. Bocor niki sepeda kulo” balasku.
“Waduh. Leh, uwong’e sing nambal ora enek ning umah, coba sampeyan mlaku mane, engkok onok pertigaan sampeyan ngetan titik, ning kunu onok tambal ban Sis ” balas si ibu tua.
Dengan tersenyum saya pun berkata “Nje Bu, monggo”
“Njeh, monggo” sahut si ibu tua.
“Juamban…Juamban…Juamban…!!.” Gerutuku dalam hati, sambil tetap mendorong sepeda motor.

            Setelah 15 menit, mendorong, bertanya sana sini tentang keberadaan si tukang tambal ban sis, akhirnya sampai juga pada tempat tujuan. Tapi yang paling membuat saya terpukau adalah warga sekitar yang menyaksikan saya mendorong sepeda motor, begitu memperhatikan keadaan yang saya dam begitu akrabnya kita, saling sahut menyahut, dan mengbrol walaupun itu terjadi hanya karena saling berpapasan saja. Saya seperti merasa sudah menjadi warga di sana, karena begitu akrab dan santainya kita saling berbalas kata.
           
            Di tambal ban tersebut, teryata ban dalam sepeda motor ini, harus diganti, karena tidak memungkinan lagi untuk di tambal. Tak sampai 15 menit, ban dalampun sudah terpasang dengan rapi. Dengan membayar Rp 30.000,- yang termasuk harga ban dan ongkos pasang ban, saya pun tak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada tukang tambal ban, yang sore itu untung belum tutup. Setelah semua beres, sayapun kembali pada teman-teman saya yang lagi bersantai di warung Mak Ti yang disitu di dapati Gusty sedang merias wajahnya, febri yang masih tertidur pulas, vivi yang juga masih merapikan tasnya, mas eko yang sedang sibuk dengan handphone, serta Puteri yang sedang asyik berbaring di dipan warung. Tanpa mereka tahu, betapa sengsaranya saya, dan hancurnya perasaan ini. “hahahahahahahahahha……”